Mengungkap Makna Kebahagiaan: Belajar dari Psikolog Peraih Nobel, Daniel Kahneman
ROSNIA JEH - Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, ada satu kalimat klise yang hampir pasti pernah kita dengar atau bahkan kita ucapkan sendiri: "Tujuan hidup saya sederhana, saya cuma ingin bahagia." Pernyataan ini terdengar indah dan mulia. Namun, mari kita berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: Apa sebenarnya definisi bahagia itu? Jika kita mendambakan sesuatu, kita harus memiliki gambaran yang sangat jelas tentang apa yang kita dambakan tersebut. Ibarat memasukkan alamat ke dalam aplikasi navigasi GPS, kita tidak bisa sekadar mengetik "tempat yang enak". Kita butuh koordinat yang jelas. Tanpa definisi yang terukur, ungkapan "ingin bahagia" hanyalah ujaran dangkal (platitude) yang menguap begitu saja tanpa pernah mewujud menjadi realita. Definisi yang tepat akan menjadi kompas yang memandu setiap keputusan dan langkah kita.
Untuk membedah anatomi kebahagiaan ini agar tidak sekadar menjadi angan-angan, mari kita selami pemikiran seorang raksasa di bidang psikologi perilaku dan ekonomi pemenang Hadiah Nobel, Profesor Daniel Kahneman.
Dua Wajah Kebahagiaan Menurut Daniel Kahneman
Dalam maha karyanya yang mengubah dunia psikologi modern, buku "Thinking, Fast and Slow", Profesor Kahneman mendobrak pandangan tradisional tentang kebahagiaan. Ia menemukan bahwa kebahagiaan manusia bukanlah satu entitas tunggal, melainkan terbagi menjadi dua konsep yang sering kali saling bertolak belakang: Kebahagiaan Saat Ini dan Kebahagiaan Ingatan.
1. Kebahagiaan Saat Ini (The Experiencing Self)
Konsep ini merujuk pada emosi dan sensasi yang Anda rasakan tepat pada detik ini. Experiencing self hidup sepenuhnya di masa kini dan tidak peduli pada masa lalu atau masa depan.
Contoh ilustrasi: Bayangkan Anda sedang duduk di kafe favorit, menyesap segelas kopi hangat yang diseduh sempurna, sambil tertawa lepas mendengarkan lelucon dari sahabat karib Anda. Di momen tersebut, Diri yang Mengalami (Experiencing Self) sedang merasakan kebahagiaan puncak. Konsep ini sangat mementingkan kenyamanan instan dan kegembiraan indrawi.
2. Kebahagiaan Ingatan (The Remembering Self / The Evaluating Self)
Berbeda dengan Experiencing Self yang hidup di momen saat ini, Remembering Self adalah sosok pencerita (storyteller) di dalam kepala kita. Ia bertugas mengevaluasi pengalaman hidup secara retrospektif, merangkumnya, dan memberikan "nilai" pada kehidupan kita secara keseluruhan.
Contoh ilustrasi: Bayangkan Anda memutuskan untuk mendaki Gunung Rinjani. Saat mendaki, kaki Anda lecet, napas tersengal-sengal, udara sangat dingin, dan Anda merasa kelelahan luar biasa (di titik ini, Experiencing Self Anda sangat menderita). Namun, bertahun-tahun kemudian, ketika Anda melihat foto di puncak gunung tersebut, Anda merasa sangat bangga dan menganggapnya sebagai pengalaman paling membahagiakan. Inilah cara kerja Remembering Self.
baca juga:
- Menemukan Makna Kebahagiaan: Dari Kenikmatan Instan, Kesehatan Mental, hingga Kedamaian Dhyana
- Mengungkap Ilusi Waktu: Mengapa Kesadaran (Mindfulness) Adalah Kunci untuk Benar-Benar Hidup
Ilusi Uang dan Kebahagiaan: Apa Kata Data?
Apakah uang bisa membeli kebahagiaan? Kahneman melakukan penelitian fenomenal terkait hal ini. Datanya menunjukkan pola yang sangat menarik pada masyarakat Amerika: Peningkatan penghasilan di atas USD 60.000 hingga USD 75.000 per tahun ternyata tidak lagi menambah Kebahagiaan Saat Ini (Experiencing Self).
Ketika penghasilan melewati batas angka tersebut, grafik kegembiraan harian menjadi datar. Mengapa? Karena ketika kebutuhan dasar sudah terpenuhi dan Anda bisa membeli kopi yang enak atau tidur di kasur yang empuk, tambahan uang tidak membuat kopi itu terasa jauh lebih nikmat.
Namun, kejutan terjadi pada grafik Kebahagiaan Ingatan (Remembering Self). Penghasilan yang terus meningkat di atas batas tersebut ternyata secara konsisten terus meningkatkan Kebahagiaan Ingatan. Hal ini terjadi karena Diri yang Mengevaluasi selalu mengasosiasikan akumulasi kekayaan dengan tolok ukur kesuksesan sosial. Dan seperti yang kita tahu, ambisi manusia akan kesuksesan nyaris tidak memiliki batas.
Refleksi Kehidupan: Antara Realita dan Ekspektasi
Mempelajari teori Kahneman ini tentu memicu kita untuk melakukan refleksi pribadi. Mari kita bedah realita kehidupan sehari-hari melalui dua lensa ini:
Realita Kebahagiaan Saat Ini: Jika kita jujur, sangat sulit untuk merasa bahagia di masa kini jika kondisinya tidak ideal. Ketika tagihan menumpuk, tubuh terserang flu, bos di kantor sedang moody, atau terjebak kemacetan berjam-jam, Experiencing Self kita pasti akan berteriak tidak bahagia. Tampaknya, agar Diri yang Mengalami ini bahagia, ia menuntut segala sesuatunya berjalan mulus sesuai ekspektasi. Begitu ada kerikil kecil, kebahagiaan itu pudar.
Realita Kebahagiaan Ingatan: Namun, jika kita menoleh ke belakang, narasinya berubah. Meskipun masa lalu penuh dengan tangis, penolakan, dan kegagalan, kita sering kali merasa puas. Kita melihat bagaimana kesulitan itu membentuk karakter kita. Kita bangga karena kita telah bertahan dan berjuang sekuat tenaga pada hal-hal yang bisa kita kendalikan. Jika diminta menilai dari skala 1-10, banyak dari kita yang akan memberikan nilai kepuasan 8, 9, atau bahkan 10 untuk kehidupan kita, terlepas dari rasa sakit di masa lalu.
Mengapa Mengejar Kenyamanan Sesaat Justru Berbahaya?
Dari refleksi di atas, kita sampai pada satu kesimpulan krusial: Definisi kebahagiaan yang semata-mata bersandar pada "Kebahagiaan Saat Ini" adalah pendekatan yang sangat dangkal (superfisial).
Jika kita menjadikan kenyamanan saat ini sebagai kompas hidup, kita justru akan tersesat. Seorang mahasiswa yang memilih rebahan (nyaman saat ini) alih-alih belajar keras (tidak nyaman) pada akhirnya akan menghadapi penyesalan dan kesulitan di masa depan.
Kenyataannya, kehidupan ini porsinya jauh lebih banyak diisi oleh rasa "tidak nyaman" daripada "nyaman". Namun, ketidaknyamanan tidak bersinonim dengan ketidakbahagiaan.
Lihatlah seorang ibu hamil. Proses mengandung selama sembilan bulan yang penuh mual, sakit punggung, hingga proses persalinan yang bertaruh nyawa adalah pengalaman yang sangat jauh dari kata "nyaman". Namun, tanyakan pada ibu tersebut saat ia mendekap bayinya untuk pertama kali; ia akan mengatakan bahwa itu adalah momen paling bahagia dalam hidupnya. Kebahagiaan sejati sering kali bersembunyi di balik tabir penderitaan yang memiliki makna.
Paradoks Sang Peraih Nobel: Kebuntuan Sang Pakar
Kisah tentang kebahagiaan ini memiliki plot twist yang menarik dari sang ilmuwan itu sendiri. Dalam sebuah wawancara jujur dengan majalah Haaretz pada Oktober 2018, Daniel Kahneman mengaku bahwa ia merasa kewalahan dan kebingungan dengan konsep yang ia cetuskan sendiri.
Pada awalnya, secara logis ia meyakini bahwa "Kebahagiaan Saat Ini" seharusnya lebih penting karena ia adalah realita yang benar-benar dirasakan, sedangkan "Kebahagiaan Ingatan" rentan terhadap bias. Namun, fakta di lapangan memukul mundur hipotesisnya. Ia menemukan bahwa sebagian besar manusia rela menderita di masa kini demi mendapatkan "cerita yang bagus" (Kebahagiaan Ingatan) di masa depan. Manusia lebih peduli pada evaluasi hidupnya daripada perasaannya sehari-hari.
Puncaknya, pada wawancara di Wellbeing Research & Policy Conference di Universitas Oxford (7 Oktober 2022), Profesor Kahneman dengan rendah hati menyatakan bahwa ia akhirnya "menyerah". Topik kebahagiaan terlalu kompleks untuk dikotak-kotakkan. Kesimpulan terakhirnya menduga bahwa kebahagiaan yang sejati adalah sebuah wujud hybrid—sebuah seni menyeimbangkan antara menikmati momen saat ini tanpa mengorbankan evaluasi atau makna hidup jangka panjang.
Sama halnya dengan filosofi yang selalu menjadi napas dari Rosnia Jeh | Bertumbuh Lewat Tulisan, memahami kebahagiaan bukanlah tentang mencapai sebuah titik akhir tanpa masalah, melainkan tentang bagaimana kita memaknai setiap goresan pengalaman hidup kita untuk terus berkembang menjadi manusia yang lebih utuh. Pertumbuhan diri yang sesungguhnya terjadi ketika kita mampu merangkul ketidaknyamanan saat ini demi merajut memori kehidupan yang indah di masa depan.
Mari Terus Bertumbuh Bersama! Apakah artikel ini memberikan perspektif baru bagi Anda dalam memandang tujuan hidup? Jangan biarkan proses belajar Anda berhenti sampai di sini. Mari ikuti terus perkembangan website ini untuk mendapatkan lebih banyak artikel mendalam, insight psikologi, dan tips pengembangan diri. Subscribe newsletter kami, tinggalkan jejak di kolom komentar, dan bagikan tulisan ini kepada sahabat atau keluarga yang mungkin sedang mencari kompas kebahagiaan mereka.
Setelah membaca pemaparan dari Daniel Kahneman di atas, kira-kira bagian mana dari hidup Anda saat ini yang lebih mendominasi: apakah Anda lebih sering mengejar kesenangan sesaat (experiencing self), atau Anda sedang menahan rasa tidak nyaman demi membangun masa depan yang membanggakan (remembering self)?




0 Komentar