Advertisement

Mengungkap 6 Kebiasaan yang Bisa Menjadi Tanda Self-Esteem Kamu Sedang Rendah

Mengungkap 6 Kebiasaan yang Bisa Menjadi Tanda Self-Esteem Kamu Sedang Rendah

Mengungkap 6 Kebiasaan yang Bisa Menjadi Tanda Self-Esteem Kamu Sedang Rendah

ROSNIA JEH - Setiap manusia di muka bumi ini pasti pernah melewati fase krisis kepercayaan diri. Entah itu saat menghadapi wawancara kerja yang menegangkan, atau saat membandingkan pencapaian diri dengan teman sebaya di media sosial. Hal tersebut sangatlah manusiawi. Namun, masalah yang sesungguhnya muncul ketika perasaan "tidak cukup baik" itu menetap, mengakar, dan secara otomatis mendikte setiap keputusan yang kamu ambil. Jika ini yang terjadi, kamu sedang berhadapan dengan krisis harga diri. Mengenali tanda self-esteem kamu sedang rendah bukanlah hal yang mudah, karena sering kali ia menyamar dalam bentuk rutinitas yang seolah-olah terlihat normal. Banyak orang tanpa sadar mengembangkan kebiasaan-kebiasaan tertentu sebagai mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) untuk melindungi ego mereka dari penolakan atau kekecewaan.

Melalui proses kesadaran diri ini, dan sejalan dengan filosofi Rosnia Jeh | Bertumbuh Lewat Tulisan, kita diajak untuk berani menatap luka batin kita sendiri. Dengan menyadari kebiasaan yang salah, kita bisa mulai menuliskan ulang narasi hidup yang lebih positif dan memberdayakan.

Jika kamu ingin memutus siklus rasa rendah diri, mari kita bedah enam kebiasaan tersembunyi yang diam-diam menghancurkan self-esteem atau harga dirimu, lengkap dengan penjelasan psikologisnya!

1. Hobi Melakukan Self-Deprecation (Merendahkan Diri Sendiri)

Orang yang memiliki self-esteem rendah sering kali merasa dirinya penuh dengan kekurangan. Untuk menutupi rasa malu, mereka kerap menggunakan humor yang merendahkan diri sendiri (self-deprecating humor) atau terus-menerus melontarkan komentar negatif tentang kapasitas mereka.

  • Saat mendapatkan nilai bagus, kamu justru berkata, "Ah, ini mah kebetulan aja soalnya gampang, aslinya aku mah nggak ngerti apa-apa." Atau kamu sering melabeli dirimu dengan kalimat, "Aku kan emang bodoh," atau "Aku emang nggak bakat sukses."

Profesor psikologi Jeffrey S. Nevid menegaskan bahwa bahasa adalah alat pembentuk realita di otak manusia. Pikiran kita bekerja melalui kata-kata yang kita produksi. Semakin sering kamu memproyeksikan label negatif pada dirimu sendiri, semakin kuat alam bawah sadarmu mempercayai bahwa itu adalah sebuah fakta absolut.

baca juga:

2. Over-Apologizing (Meminta Maaf Secara Berlebihan)

Memiliki empati dan mau mengakui kesalahan adalah kualitas individu yang sangat berkelas. Namun, orang yang tidak percaya diri membawa sikap ini ke level yang sangat ekstrem ( over-apologizing). Mereka meminta maaf untuk segala hal, bahkan untuk situasi yang sama sekali bukan tanggung jawab mereka.

  • Kamu meminta maaf saat harus bertanya kepada pelayan restoran, meminta maaf saat temanmu yang menabrak bahumu, atau sekadar meminta maaf karena kamu mengutarakan pendapat pribadi.

Melansir wawasan dari CNBC, kebiasaan ini berakar dari rasa tanggung jawab palsu atas emosi dan kenyamanan semua orang di sekitar mereka. Mereka hidup dalam ketakutan bahwa jika mereka tidak bersikap sangat patuh dan "sempurna", mereka akan dibenci atau ditinggalkan. Ironisnya, terlalu sering mengobral kata maaf justru akan menghilangkan esensi dan nilai dari permintaan maaf itu sendiri, serta membuat orang lain memandangmu sebagai sosok yang lemah.

3. Sangat Kesulitan dan Canggung Menerima Pujian

Coba perhatikan reaksi pertamamu saat seseorang memuji penampilan atau hasil kerjamu. Apakah kamu tersenyum dan mengucapkan terima kasih dengan tulus? Atau kamu justru panik, menyangkal, dan mencari-cari alasan untuk mematahkan pujian tersebut?

  • "Baju kamu bagus banget deh hari ini!" lalu kamu merespons dengan panik, "Ih apaan, ini baju murah beli di pasar loh, warnanya juga udah pudar."

Bagi mereka yang memiliki harga diri rendah, menerima apresiasi adalah sebuah siksaan mental. Menurut psikoterapis Myron Nelson, fenomena ini terjadi karena adanya disonansi kognitif (benturan keyakinan). Otak mereka merasa sangat tidak nyaman ketika pujian dari luar bertentangan dengan kebencian atau pandangan negatif yang mereka miliki tentang diri mereka sendiri di dalam batin.

4. Rela Menjadi People Pleaser dan Menghancurkan Batasan Diri (Boundaries)

Menciptakan batasan (boundaries) yang sehat adalah kunci utama menjaga kewarasan mental dan emosional. Sayangnya, orang yang kehilangan rasa percaya diri tidak berani membangun tembok batasan ini. Mereka menjelma menjadi people pleaser (si pemuas orang lain).

Mereka meyakini bahwa nilai diri mereka hanya ditentukan oleh seberapa berguna mereka bagi orang lain. Mereka sangat takut dicap arogan, egois, atau dijauhi jika berani mengucapkan kata "TIDAK". Akibatnya, mereka rela mengorbankan waktu istirahat, uang, dan kesehatan mental mereka sendiri demi menuruti permintaan orang lain. Hubungan sosial yang mereka jalani menjadi sangat timpang dan memicu kelelahan emosional (burnout) yang kronis.

5. Terkena Imposter Syndrome: Menyabotase Kesempatan Emas

Sering kali, alam semesta memberikan peluang luar biasa kepada orang-orang yang memang kompeten. Anehnya, individu dengan self-esteem yang hancur justru sering berlari menjauhi peluang tersebut.

  • Kamu menolak tawaran promosi jabatan dari atasanmu, atau mundur dari beasiswa bergengsi, murni karena kamu merasa "Ada orang lain yang jauh lebih pantas daripada aku."

Mereka mengidap apa yang disebut sebagai Imposter Syndrome (Sindrom Penipu). Meskipun mereka memiliki rentetan prestasi dan orang lain mengakui kehebatan mereka, di dalam hati kecilnya mereka merasa seperti seorang penipu yang sedang beruntung. Mereka sangat takut jika nanti mereka gagal memenuhi ekspektasi, sehingga mereka menyabotase diri mereka sendiri dengan menolak peluang tersebut sebelum mencobanya.

6. Haus Akan Validasi Eksternal (Ketergantungan Pengakuan)

Orang yang tangguh secara mental memiliki kompas harga diri di dalam dadanya (intrinsic self-worth). Sebaliknya, tanda paling akut dari rendahnya harga diri adalah ketika kompas tersebut diletakkan di tangan orang lain.

Mereka tidak bisa mengambil keputusan sepele (seperti memilih warna baju) tanpa bertanya pada lima orang teman. Mereka hanya merasa cantik jika unggahan foto mereka di Instagram mendapatkan ratusan likes. Psikoterapis Sherry Gaba mencatat bahwa menggantungkan kebahagiaan dan validasi pada dunia eksternal adalah resep paling ampuh untuk memicu depresi dan kecemasan tingkat tinggi. Belajar untuk memberikan tepuk tangan pada dirimu sendiri tanpa menunggu sorakan penonton adalah kunci menuju kemerdekaan mental.

Berjuang dengan rasa rendah diri bukanlah sebuah kutukan permanen, melainkan kebiasaan kognitif yang bisa diperbaiki dan dilatih ulang. Menyadari keenam tanda di atas adalah titik balik bagimu untuk mulai melepaskan beban yang selama ini menahan potensimu. Mulailah hargai setiap inci dari dirimu, kurangi kebiasaan meminta maaf untuk hal yang tak perlu, dan belajarlah menerima pujian dengan anggun.

Mari Lanjutkan Perjalanan Menggali Potensi Diri Bersama Kami!

Membangun kembali harga diri (self-esteem) yang sempat runtuh tentu akan terasa jauh lebih mudah dan menyenangkan jika kamu dikelilingi oleh individu-individu yang saling menguatkan.

Ayo, perluas perspektifmu, temukan lingkungan pertemanan yang positif, dan nikmati asupan ilmu pengembangan karakter (self-development) setiap harinya dengan bergabung bersama komunitas pembaca setia kami.

Segera amankan ruang amanmu untuk berproses dengan bergabung ke Grup Telegram Eksklusif Komunitas Kami melalui tautan berikut sekarang juga: https://t.me/+V7bWjzRSrhljY2Rl

#SelfEsteem #KesehatanMental #SelfDevelopment #PengembanganDiri #AntiInsecure #PeoplePleaser #ImposterSyndrome #MentalAwareness #BertumbuhLewatTulisan



 

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code