Advertisement

Mudah Terbawa Mood Orang Sekitar? Lakukan 3 Cara Ini untuk Menghentikannya Sebelum Menguras Energi

Mudah Terbawa Mood Orang Sekitar? Lakukan 3 Cara Ini untuk Menghentikannya Sebelum Menguras Energi

Mudah Terbawa Mood Orang Sekitar? Lakukan 3 Cara Ini untuk Menghentikannya Sebelum Menguras Energi

ROSNIA JEH - Pernahkah Anda datang ke kantor dengan perasaan yang sangat gembira, namun mendadak merasa lesu dan kesal hanya karena duduk di sebelah rekan kerja yang sedang mengeluh sepanjang hari? Jika iya, Anda tidak sendirian. Fenomena mudah terbawa mood orang sekitar adalah hal yang sangat umum dialami oleh banyak orang.

Dalam ilmu psikologi, kondisi ini dikenal dengan istilah Emotional Contagion atau penularan emosi. Otak manusia dilengkapi dengan mirror neurons (neuron cermin) yang membuat kita secara otomatis memindai, mengenali, dan terkadang meniru emosi orang-orang yang ada di hadapan kita. Bagi sebagian orang—terutama mereka yang memiliki empati tinggi—kemampuan menyerap emosi ini ibarat spons. Sayangnya, suasana hati yang ikut naik-turun karena tekanan dari lingkungan luar bisa sangat merusak fokus, menurunkan produktivitas, dan memicu kelelahan mental (burnout).

Sejalan dengan nilai yang selalu kita pegang bersama Rosnia Jeh | Bertumbuh Lewat Tulisan, kita meyakini bahwa proses mendewasakan diri berarti memiliki kecerdasan untuk memvalidasi emosi, sekaligus tahu kapan harus membentengi pikiran dari hal-hal yang berada di luar kendali kita.

Anda tidak harus menjauhi semua orang atau mengasingkan diri ke tengah hutan untuk bisa hidup tenang. Anda hanya perlu melatih mental. Melansir dari wawasan psikologi Mindful Center, berikut adalah panduan dan kebiasaan sederhana untuk menjaga energi emosional Anda tetap sehat, stabil, dan terkendali.

3 Cara Menghentikan Kebiasaan Menyerap Emosi Orang Lain

1. Sadari Alarm Tubuh Saat Mulai Menyerap Emosi (Lakukan Jeda Mindful)

Langkah paling krusial dan pertama untuk memutus rantai penularan emosi adalah memiliki kesadaran diri (self-awareness). Anda tidak bisa menghentikan sesuatu yang tidak Anda sadari.

Biasanya, kondisi "mabuk emosi" ini ditandai dengan alarm fisik dan psikologis. Misalnya, suasana hati Anda yang tadinya baik tiba-tiba berubah drastis menjadi murung tanpa alasan yang logis. Anda mungkin merasa kehabisan napas, sakit kepala ringan, atau merasa lelah luar biasa usai mengobrol dengan orang tertentu. Sebagian orang bahkan merasa memiliki kewajiban moral untuk ikut cemas dan segera "menyelamatkan" orang tersebut dari masalahnya, meskipun tidak diminta.

Praktik Nyata: Ketika tanda-tanda atau alarm tubuh tersebut muncul, segeralah menekan tombol pause di kepala Anda. Berhentilah sejenak, tarik napas, dan tanyakan pertanyaan validasi ini pada diri sendiri: "Tunggu dulu, apakah rasa marah/sedih ini benar-benar milikku, atau aku hanya sedang meminjam emosi si A?" Dengan mengidentifikasi sumber emosi, Anda secara otomatis memutuskan ikatan tak kasatmata yang mentransfer energi negatif tersebut ke dalam diri Anda.

2. Latih Teknik Grounding untuk Menenangkan Diri Sebelum Ikut Larut

Orang-orang dengan kepribadian Highly Sensitive Person (HSP) atau mereka yang memiliki kecenderungan codependent (ketergantungan emosional pada orang lain) biasanya memiliki sistem saraf yang jauh lebih sensitif. Ketika ada ketegangan emosional di dalam sebuah ruangan, tubuh mereka menganggap hal itu sebagai "ancaman bahaya", sehingga sistem saraf akan mengaktifkan mode fight or flight (melawan atau lari).

Untuk meredam respons otomatis ini, Anda wajib belajar menenangkan tubuh dan pikiran melalui teknik grounding (membumi) dan visualisasi.

baca juga:

Praktik Nyata:

  • Teknik Grounding: Saat teman Anda sedang meledak-ledak bercerita, jangan menatap matanya terus-menerus jika itu membuat Anda kewalahan. Rasakan telapak kaki Anda memijak lantai dengan kuat. Tarik napas dalam-dalam dari hidung dan hembuskan perlahan. Pusatkan perhatian pada sensasi fisik tubuh Anda sendiri. Ini akan menciptakan jarak ruang antara Anda dan emosi lawan bicara.

  • Teknik Visualisasi Perisai: Bayangkan ada sebuah gelembung kaca transparan atau perisai cahaya yang menyelimuti seluruh tubuh Anda. Sugestikan bahwa suara dan cerita orang tersebut hanya bisa terdengar, tetapi emosi negatifnya akan memantul kembali dan tidak bisa menembus perisai kaca Anda. Di luar interaksi sosial, rutin mempraktikkan meditasi dan menulis jurnal (journaling) juga terbukti secara sains mampu melatih ketangguhan sistem saraf dalam menghadapi ketidaknyamanan emosional.

3. Bangun Batasan Tegas: Emosi Orang Lain Bukan Tanggung Jawab Pribadi

Memiliki rasa peduli adalah hal yang mulia, namun Anda harus bisa membedakan antara bersimpati dan menjadi "tempat sampah emosi". Membangun batasan (boundaries) tidak selalu berarti Anda membenci orang tersebut atau menghindarinya secara fisik. Batasan adalah bentuk perlindungan diri.

Sering kali, individu yang empatik terjebak pada Savior Complex—perasaan bahwa mereka bertanggung jawab penuh untuk memperbaiki masalah dan menyembuhkan luka orang lain.

Praktik Nyata:

  • Batasan Internal: Ulangi mantra ini di dalam hati Anda: "Saya bisa mendengarkan keluh kesahnya, tetapi saya tidak bertanggung jawab atas perasaannya atau jalan keluar hidupnya." Anda tetap bisa menjadi pendengar yang baik tanpa harus ikut menanggung rasa sakit mereka.

  • Batasan Eksternal: Anda berhak membatasi waktu interaksi dengan energy vampire (orang yang selalu menguras emosi). Jika perbincangan mulai terasa sangat membebani dan merusak hari Anda, sampaikan batasan secara tegas namun sopan. Katakanlah, "Aku paham banget kamu lagi stres, tapi maaf ya, kepalaku lagi penuh banget sekarang dan aku butuh istirahat sebentar." Mengambil jarak saat mulai kewalahan adalah hak mutlak Anda, bukan sebuah keegoisan.

Lindungi Energi Anda!

Menjadi orang yang empatik adalah sebuah anugerah, asalkan Anda tahu cara mengendalikannya. Memahami cara agar tidak mudah terbawa mood orang sekitar adalah investasi jangka panjang untuk kesehatan mental yang lebih baik. Mulailah berlatih menyadari batas emosi, melakukan grounding, dan berani bilang "cukup" saat energi Anda sudah menyentuh limit. Ingat, Anda tidak akan bisa menuangkan air untuk orang lain jika teko Anda sendiri sudah kosong.

Mari Lanjutkan Perjalanan Pengembangan Diri Anda Bersama Kami!

Menjaga kesehatan mental dan kewarasan di tengah lingkungan yang dinamis memang membutuhkan latihan konsisten. Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat dan ingin terus mendapatkan insight positif seputar dunia psikologi, produktivitas, dan self-improvement, jangan berhenti sampai di sini!

Ayo, perluas wawasan dan bertumbuh bersama komunitas kami yang suportif. Segera bergabung dengan Grup Telegram eksklusif kami melalui tautan berikut: https://t.me/+V7bWjzRSrhljY2Rl. Di sana, kita akan saling berbagi wawasan, dukungan emosional, dan artikel-artikel mendalam lainnya yang siap menemani langkah Anda menjadi versi diri yang paling tangguh. Kami tunggu kehadiran Anda!

#KesehatanMental #PsikologiKarakter #SelfDevelopment #HighlySensitivePerson #BatasEmosional #MindfulLiving #EnergiPositif #PengembanganDiri #BertumbuhLewatTulisan #MentalHealthAwareness



 

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code