Advertisement

Merasa Senang dan Lega Ketika Janji Dibatalkan di Menit Terakhir? Ini Kata Penelitian Psikologi!

Merasa Senang dan Lega Ketika Janji Dibatalkan di Menit Terakhir? Ini Kata Penelitian Psikologi!

Merasa Senang dan Lega Ketika Janji Dibatalkan di Menit Terakhir? Ini Kata Penelitian Psikologi!

ROSNIA JEH - Coba bayangkan situasi ini: Anda sudah merencanakan agenda hangout atau makan malam bersama teman-teman sejak seminggu yang lalu. Namun, saat Anda baru saja bersiap-siap dan memilih pakaian, tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel Anda. Teman Anda membatalkan janji tersebut karena ada urusan mendadak.

Apa reaksi pertama yang muncul di kepala Anda? Apakah Anda merasa kesal, marah, atau kecewa karena rencana berantakan? Atau... apakah Anda justru Merasa Senang dan Lega Ketika Janji Dibatalkan di Menit Terakhir?

Jika Anda memilih reaksi yang kedua, Anda tidak sendirian. Di era modern ini, membatalkan janji secara mendadak memang terdengar menyebalkan dan kurang sopan. Namun faktanya, banyak sekali orang yang diam-diam bersorak kegirangan di dalam hati saat rencana pertemuan mereka urung dilakukan. Alih-alih marah, mereka langsung mengganti baju pergi mereka dengan piyama yang nyaman, lalu bersantai di sofa.

Mengapa hal paradoks ini bisa terjadi? Apakah ini pertanda kita menjadi manusia anti-sosial? Tentu tidak. Sebagai ruang untuk terus merefleksikan diri, sejalan dengan nilai Rosnia Jeh | Bertumbuh Lewat Tulisan, mari kita bedah fenomena unik ini dari kacamata psikologi dan sains.

Kenapa Batal Janji Terasa Menyenangkan? Mengenal JOMO (Joy of Missing Out)

Sebelum masuk ke dalam teori akademis, kita perlu memahami realita kehidupan kita saat ini. Kita hidup dalam ritme yang sangat cepat ( fast-paced). Siklus bekerja, bersosialisasi, dan mengurus kehidupan pribadi sering kali menyedot habis "baterai" sosial kita.

Ketika sebuah janji dibatalkan, kita sering kali mengalami apa yang disebut sebagai JOMO (Joy of Missing Out)—kebalikan dari FOMO (Fear of Missing Out). JOMO adalah perasaan nikmat dan bahagia ketika kita "tertinggal" atau tidak berpartisipasi dalam sebuah acara sosial, karena pada akhirnya kita mendapatkan waktu untuk diri kita sendiri (me-time).

baca juga:

Alasan mendasar mengapa kita merasa lega bisa bermacam-macam:

  • Kelelahan Fisik dan Mental: Baterai sosial yang sudah menipis setelah bekerja seharian.

  • Kurangnya Intensi: Dari awal, kita mungkin hanya mengiyakan ajakan tersebut karena merasa tidak enak hati (people-pleasing), bukan karena benar-benar ingin pergi.

  • Kenyamanan Rumah: Hujan deras di luar atau rasa nyaman bergelung di balik selimut jauh lebih menggoda daripada harus menembus kemacetan jalan raya.

Membedah Fakta Penelitian: Teori "Waktu Tambahan" (Bonus Time)

Lalu, apa kata para ahli mengenai fenomena ini? Dilansir dari jurnal Your Tango yang mengutip laporan dari StudyFinds, orang-orang menyukai pembatalan rencana di menit terakhir karena otak memproses situasi ini sebagai penerimaan "waktu tambahan" atau bonus time.

Uniknya, otak kita merespons waktu luang dadakan ini dengan cara yang sangat berbeda dibandingkan waktu luang yang sudah direncanakan sejak awal. Waktu luang yang datang secara tiba-tiba terasa berkali-kali lipat lebih lama dan lebih berharga meskipun durasi aslinya sama.

Bukti Eksperimen di Laboratorium

Untuk membuktikan hipotesis ini, para peneliti melakukan sebuah eksperimen perilaku kepada dua kelompok mahasiswa:

  • Kelompok A (Waktu Terencana): Ditempatkan di dalam ruang kelas dan sejak awal diberi tahu bahwa jadwal kuliah mereka yang seharusnya 60 menit akan diakhiri 10 menit lebih awal.

  • Kelompok B (Waktu Dadakan): Diberi tahu bahwa sesi kuliah akan berlangsung normal selama 30 menit. Namun, secara mengejutkan, dosen membubarkan kelas pada menit ke-20.

Hasilnya sangat mengejutkan: Kedua kelompok tersebut sama-sama mendapatkan sisa waktu bebas (waktu luang) sebanyak 10 menit. Namun, Kelompok A yang sejak awal sudah "mengekspektasikan" waktu luang merasa waktu tersebut biasa saja. Sebaliknya, Kelompok B yang mendapatkan "bonus waktu" tanpa disangka-sangka, merasa seolah-olah mereka memiliki waktu luang yang sangat berlimpah dan panjang.

Eksperimen ini membuktikan bahwa persepsi manusia terhadap berharganya waktu tidak hanya ditentukan oleh durasi jam atau menit yang berdetak, melainkan sangat dipengaruhi oleh ekspektasi.

Contrast Effect (Efek Kontras): Bagaimana Otak Memanipulasi Realita

Mengapa Kelompok B pada eksperimen di atas merasa waktunya lebih panjang? Asosiasi Psikologi Amerika (American Psychological Association / APA) menjelaskan fenomena ini melalui teori Efek Kontras (Contrast Effect).

Contrast effect adalah kecenderungan otak manusia untuk memandang sebuah perbedaan secara lebih intensif ketika dua situasi yang bertolak belakang terjadi secara berurutan. Otak kita tidak pernah menilai sesuatu secara absolut, melainkan selalu membandingkannya dengan sesuatu yang lain.

Contoh Ilustrasi dalam Kehidupan Nyata: Bayangkan hari ini agenda Anda full. Anda membayangkan harus mandi terburu-buru, memesan taksi online, menghadapi macet, dan duduk di kafe mendengarkan curhatan teman (Kondisi 0% Waktu Luang).

Tiba-tiba, teman Anda mengabarkan, "Maaf ya, ban mobilku bocor, kita batal ketemu hari ini."

Dalam hitungan detik, jadwal Anda yang tadinya 0% waktu luang berubah drastis menjadi 100% waktu luang. Perbedaan yang sangat ekstrem ini membuat otak Anda mengalami euforia. Anda merasa baru saja "memenangkan" waktu yang sangat berharga. Waktu 2 jam yang seharusnya Anda pakai untuk nongkrong, kini terasa seperti liburan akhir pekan yang sangat panjang.

Tidak Peduli Siapa yang Dibatalkan, Efek Kelegaannya Tetap Sama

Fakta menarik lainnya dari penelitian ini adalah: persepsi waktu yang melambat ini tidak berubah, terlepas dari apa jenis acaranya.

Mantan profesor psikologi klinis, Michael Wiederman, PhD., menjelaskan bahwa pada dasarnya setiap manusia di bumi memiliki jatah waktu yang sama, yaitu 24 jam sehari. Namun, manusia selalu merasa "kekurangan waktu".

Mendapatkan kabar bahwa jadwal cabut gigi Anda dibatalkan oleh dokter mungkin memberikan rasa lega yang jauh lebih besar daripada batal hangout ke mal bersama pacar. Akan tetapi, secara neurologis, sensasi "mendapatkan kembali waktu yang hilang" akan tetap terasa memuaskan dan membuat jam seolah berdetak lebih lambat.

Nikmati Rencana yang Batal sebagai Momen Slow Down

Michael Wiederman, PhD., memberikan tantangan menarik tentang bagaimana kita bisa mengaplikasikan temuan ini di kehidupan sehari-hari. Eksperimen mahasiswa di atas menunjukkan bahwa ketika seseorang merasa memiliki "lebih banyak waktu", mereka tidak hanya merasa lega, tetapi mereka juga bertindak lebih tenang dan tidak terburu-buru.

Jadi, ketika sebuah janji dibatalkan di menit-menit terakhir, jangan biarkan rasa bersalah menghantui Anda karena diam-diam Anda merasa kegirangan. Anggaplah itu sebagai sebuah intervensi dari alam semesta. Di tengah ritme kehidupan modern yang sangat padat dan membuat stres, pembatalan rencana adalah sebuah "jeda istirahat" gratis. Ini adalah undangan bagi kita untuk melambatkan langkah, merebahkan diri sejenak, dan menikmati ketenangan yang jarang kita dapatkan.

Bagaimana menurut Anda? Apakah Anda sering menjadi bagian dari kelompok yang bersorak lega saat ada teman yang membatalkan janji?

Ingin Terus Bertumbuh dan Memperluas Wawasan?

Jangan biarkan perjalanan pengembangan diri Anda berhenti di artikel ini saja! Jika Anda menyukai konten-konten mindfulness, psikologi praktis, dan ingin terus mendapatkan insight baru untuk menata hidup yang lebih berkualitas, mari bergabung ke dalam komunitas kami.

Di sana, kita bisa saling bertukar pikiran, membagikan tulisan inspiratif, dan belajar tumbuh bersama di tengah kesibukan sehari-hari.

Yuk, klik tautan di bawah ini dan bergabung bersama Grup Telegram Komunitas kami sekarang juga! 👉 https://t.me/+V7bWjzRSrhljY2Rl

Kami tunggu kehadiran Anda di sana!

#PsikologiKarakter #CanceledPlans #MentalHealthAwareness #KesehatanMental #JoyOfMissingOut #JOMO #SelfCare #PengembanganDiri #SelfDevelopment #GayaHidupModern



 

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code