Kenapa Kita Suka Makan saat Stres? Waspadai 5 Pemicu Emotional Eating Ini!
ROSNIA JEH - Pernahkah kamu baru saja melewati hari yang sangat melelahkan di kantor, lalu tiba-tiba ada dorongan kuat untuk menghabiskan sekotak martabak manis atau sebungkus besar keripik kentang? Atau mungkin, saat sedang merasa cemas, bosan, dan sedih, mulut rasanya ingin terus mengunyah sesuatu padahal perut sebenarnya tidak sedang keroncongan? Jika jawabanmu adalah "iya", kamu tidak sendirian. Fenomena kenapa kita suka makan saat stres adalah salah satu hal yang paling sering dipertanyakan di era modern yang serba cepat ini.
Dalam dunia medis dan psikologi, kondisi ini dikenal dengan istilah emotional eating, yaitu sebuah kebiasaan makan yang sepenuhnya dikendalikan dan dipicu oleh luapan emosi, bukan karena tubuh sedang membutuhkan kalori atau nutrisi.
Sebenarnya, mencari "kenyamanan" lewat makanan favorit (comfort food) sesekali saat suasana hati sedang mendung bukanlah sebuah dosa besar. Namun, masalah akan muncul jika hal ini diubah menjadi coping mechanism atau jalan keluar utama setiap kali kamu menghadapi tekanan. Jika dibiarkan menjadi kebiasaan permanen, emotional eating akan merusak kepekaan alamimu dalam mengenali rasa lapar yang sesungguhnya. Ujung-ujungnya, ini akan memicu obesitas, gangguan pencernaan, hingga memperparah kondisi mentalmu akibat rasa bersalah setelah makan (food guilt).
Sebagai pengingat untuk kita semua, sesuai dengan semangat Rosnia Jeh | Bertumbuh Lewat Tulisan, mari kita edukasi diri untuk lebih peka terhadap sinyal tubuh dan emosi kita sendiri. Pertumbuhan diri yang sehat selalu dimulai dari kesadaran (mindfulness).
Agar kamu bisa memutus rantai kebiasaan buruk ini, mari kita bedah secara mendalam sederet pemicu yang diam-diam menjebakmu dalam pusaran emotional eating!
5 Kebiasaan dan Kondisi Pemicu Emotional Eating
Melansir dari berbagai literatur jurnal kesehatan dan psikologi gizi, berikut adalah kebiasaan-kebiasaan yang tanpa sadar membuatmu terus-menerus menjadikan makanan sebagai pelarian emosi:
1. Menjadikan Makanan sebagai "Pelarian" Instan dari Tekanan
Ketika deadline pekerjaan menumpuk atau kamu baru saja berdebat dengan pasangan, otak akan merespons situasi tersebut sebagai ancaman. Apa yang terjadi selanjutnya?
Menurut riset komprehensif yang diterbitkan dalam jurnal Appetite (2020), stres yang tinggi akan memicu lonjakan produksi hormon kortisol di dalam tubuh. Hormon inilah sang "dalang" di balik hasrat menggebu-gebu (craving) untuk mengonsumsi makanan yang tinggi gula, garam, dan lemak jenuh (seperti cokelat, es krim, atau gorengan). Makanan-makanan jenis ini memberikan efek mati rasa emosional dan ledakan dopamin sesaat, sehingga makan seolah menjadi "pelarian" instan untuk meredam kecemasan.
2. Terjebak dalam Mindless Eating (Makan Sambil Multitasking)
Coba ingat-ingat, seberapa sering kamu makan siang di depan laptop sambil mengetik laporan? Atau menghabiskan camilan sambil maraton serial Netflix dan scrolling TikTok berjam-jam?
Kebiasaan makan sambil melakukan aktivitas lain ini disebut mindless eating (makan tanpa kesadaran). Jurnal bergengsi American Journal of Clinical Nutrition (2019) merilis temuan bahwa fokus yang terpecah saat makan akan membuat otak gagal menerima sinyal kenyang dari lambung secara real-time. Akibatnya, tanganmu akan terus menyuap makanan ke dalam mulut jauh melebihi porsi yang sebenarnya dibutuhkan oleh tubuhmu.
baca juga:
- Menemukan Makna Kebahagiaan: Dari Kenikmatan Instan, Kesehatan Mental, hingga Kedamaian Dhyana
- 3 Cara Mengenali Orang Tangguh yang Berhati Lembut dari Kalimat Sehari-hari, Coba Cek Lingkunganmu!
- Selain Keuangan, Ini 5 Hal yang Perlu Dievaluasi di Akhir Bulan agar Hidup Lebih Seimbang
- Waspada Burnout! 5 Kebiasaan yang Diam-diam Menguras Energi Mental, Apakah Kamu Sering Melakukannya?
- 5 Hobi yang Bisa Membantu Memperkuat Mental, Mudah Dilakukan di Rumah!
3. Pola Tidur Berantakan (Kurang Istirahat)
Jangan remehkan kekuatan tidur yang berkualitas! Kurang tidur tidak hanya membuatmu menguap sepanjang hari dan kehilangan konsentrasi, tetapi juga mengacaukan sistem hormon pengatur nafsu makan.
Sebuah penelitian dari jurnal Sleep (2018) membuktikan secara ilmiah bahwa kurang tidur akan meningkatkan kadar hormon ghrelin (hormon pemicu rasa lapar) secara drastis, dan di saat bersamaan, menurunkan hormon leptin (hormon yang memberikan sinyal kenyang). Kondisi biologis yang tidak seimbang ini akan membuatmu kalap dan lebih rentan memborong makanan berkalori tinggi untuk "membayar" energi yang hilang akibat kurang tidur.
4. Lingkungan yang Dipenuhi Godaan Visual
Ada pepatah yang mengatakan "Out of sight, out of mind" (Jauh di mata, jauh di hati). Pepatah ini sangat berlaku untuk kebiasaan makan! Lingkungan di sekitarmu memegang kendali yang sangat besar terhadap perilakummu.
Jika kamu memiliki kebiasaan menyetok toples-toples berisi camilan manis di atas meja kerja, atau meletakkan keripik di nakas sebelah tempat tidur, kamu akan jauh lebih mudah meraihnya saat sedang bosan atau buntu mencari ide. Publikasi dalam Health Psychology Review (2021) menunjukkan bahwa isyarat visual dari lingkungan sering kali memicu respons makan secara otomatis.
Solusi: Mulailah merombak lingkunganmu. Sembunyikan camilan tidak sehat di dalam laci tertutup, dan gantilah dengan meletakkan semangkuk buah segar atau botol air putih di atas mejamu.
5. Mengabaikan dan Lari dari Emosi yang Sebenarnya
Sering kali, rasa "lapar" yang tiba-tiba menyerang bukanlah berasal dari kekosongan di lambung, melainkan kekosongan di jiwa yang belum terselesaikan.
Riset dalam Eating Behaviors (2021) menggarisbawahi bahwa individu yang memiliki kesulitan dalam mengidentifikasi, menerima, dan mengelola emosi negatifnya, jauh lebih rentan terjerumus dalam emotional eating. Makanan dijadikan sebagai alat untuk menutupi rasa sepi, bosan, marah, atau sedih. Sebelum kamu membuka aplikasi pesan-antar makanan, cobalah ambil napas panjang dan tanyakan pada dirimu secara jujur: "Apakah aku benar-benar lapar secara fisik (perut berbunyi, lemas)? Atau aku hanya sedang merasa sedih dan butuh dipeluk?"
Kenali Dirimu, Sayangi Tubuhmu!
Menghilangkan kebiasaan emotional eating memang tidak bisa dilakukan dalam waktu semalam. Dibutuhkan latihan kesabaran dan kemauan keras untuk terus mengenali emosi apa yang sedang bergejolak di dalam dada, alih-alih langsung melampiaskannya pada makanan. Ketika hasrat makan karena emosi itu datang, cobalah untuk minum segelas air putih terlebih dahulu, berjalan-jalan kecil selama 10 menit, atau mengalihkan perhatian dengan menulis jurnal.
Mari Lanjutkan Perjalanan Mengenali Diri Bersama Kami!
Menjaga kesehatan fisik dan mental di tengah tekanan hidup memang sering kali terasa berat jika dilakukan sendirian. Terkadang, kita butuh teman diskusi, ruang curhat yang aman, serta wawasan baru yang positif agar kita tidak terus-menerus lari ke arah pelarian yang salah.
Apakah kamu merasa relate dengan artikel seputar psikologi kesehatan dan pengembangan diri di atas? Jangan biarkan perjalananmu untuk bertumbuh terhenti di layar ini!
Ayo, perluas perspektifmu, temukan rekan-rekan pembaca yang suportif, saling bertukar cerita perjuangan melawan kebiasaan buruk, dan dapatkan asupan energi positif setiap harinya dengan bergabung bersama komunitas pembaca setia kami.
Segera amankan ruang amanmu untuk berjejaring, berproses, dan belajar lebih bijak dalam mengelola emosi dengan bergabung ke Grup Telegram Eksklusif Komunitas Kami melalui tautan berikut sekarang juga:
Kami sangat menantikan kehadiran dan cerita hebatmu di ruang obrolan! Jangan lupa juga untuk membagikan artikel penting ini ke WhatsApp sahabat, rekan kerja, atau keluargamu agar mereka juga bisa terlepas dari jeratan emotional eating!
#EmotionalEating #KesehatanMental #SelfDevelopment #PengembanganDiri #GayaHidupSehat #MengelolaStres #PsikologiKesehatan #MindfulEating #BertumbuhLewatTulisan #MentalAwareness





0 Komentar