Advertisement

Kenapa Kita Suka Lari dari Masalah? Kenalan dengan 'Avoidance Coping' yang Nggak Kamu Sadari

Kenapa Kita Suka Lari dari Masalah? Kenalan dengan 'Avoidance Coping' yang Nggak Kamu Sadari

Kenapa Kita Suka Lari dari Masalah? Kenalan dengan 'Avoidance Coping' yang Nggak Kamu Sadari

ROSNIA JEH - Pernahkah kamu memiliki niat untuk memperbaiki hubungan yang sedang renggang dengan sahabat atau menyelesaikan konflik dengan pasangan, tapi kamu justru terus menundanya? Bukan karena jadwalmu terlalu padat, melainkan karena ada perasaan cemas dan takut akan reaksi mereka. Jika kamu sering mengalami hal ini, artikel Kenapa Kita Suka Lari dari Masalah? Kenalan dengan 'Avoidance Coping' yang Nggak Kamu Sadari ini akan membantumu memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam pikiranmu.

Daripada harus berhadapan dengan risiko atau respons yang tidak sesuai harapan, banyak dari kita akhirnya memilih jalan pintas: menghindar. Dalam dunia psikologi, kebiasaan lari dari masalah demi menghindari emosi negatif ini dikenal dengan istilah avoidance coping. Sayangnya, menghindar bukanlah solusi, melainkan bom waktu.

Mari kita bahas lebih dalam tentang fenomena psikologis ini, berdasarkan temuan dari Elizabeth Scott, seorang pakar di bidang coping management dan psikologi positif, agar kita bisa belajar berhenti lari dan mulai menghadapi tantangan hidup.

Apa Itu Avoidance Coping? Mengapa Menghindar Terasa Lebih Mudah?

Ketika kita dihadapkan pada situasi yang mengancam—baik secara fisik maupun emosional—otak kita secara otomatis akan memicu respons fight or flight (lawan atau lari). Avoidance coping adalah bentuk nyata dari respons "lari". Saat kamu khawatir dengan hasil akhir suatu konflik, kamu cenderung menghindari perasaan tidak nyaman tersebut.

Sebagai gantinya, kamu mencari pelarian (distraction) yang menawarkan dopamin atau kesenangan instan. Misalnya, saat deadline pekerjaan menumpuk dan kamu merasa kewalahan, kamu malah asyik scrolling media sosial berjam-jam, marathon drakor, atau tiba-tiba sibuk membersihkan kamar.

baca juga:

Ilusi Ketenangan Sesaat

Pada awalnya, mengalihkan perhatian memang terasa melegakan. Jantung yang tadinya berdebar cepat karena cemas perlahan kembali normal. Namun, ketenangan ini hanyalah ilusi sesaat. Ini ibarat kamu menyapu kotoran ke bawah karpet; rumah terlihat bersih, tapi kotorannya tetap ada dan perlahan akan menumpuk menjadi sarang penyakit. Semakin lama kamu menunda, stres yang menumpuk di alam bawah sadarmu justru akan semakin besar dan berkepanjangan.

Alasan Psikologis Mengapa Kita Sering Terjebak Avoidance Coping

Perasaan cemas yang muncul saat menghadapi konflik sangat dipengaruhi oleh rekam jejak atau pengalaman hidup masing-masing individu. Tidak ada orang yang tiba-tiba menjadi penghindar tanpa alasan.

Trauma Masa Lalu dan Rasa Takut Gagal

Ada beberapa alasan kuat mengapa seseorang memilih avoidance coping:

  • Pengalaman traumatis: Seseorang yang pernah mengalami penolakan keras atau perundungan (bullying) di tempat kerja mungkin akan secara sengaja sering membolos atau pura-pura sakit untuk menghindari lingkungan yang beracun tersebut.

  • Krisis kepercayaan diri: Rasa takut menghadapi masalah sering kali berakar dari perasaan tidak mampu (imposter syndrome). Kamu takut jika kamu mengambil langkah, hasilnya justru memperburuk keadaan.

  • Memori buruk dengan seseorang: Kamu mungkin sering mengabaikan pesan WhatsApp atau menolak ajakan bertemu dari orang tertentu karena memori otakmu mengaitkan orang tersebut dengan konflik masa lalu yang belum selesai.

Bahaya Mengabaikan Masalah: Bom Waktu untuk Kesehatan Mental

Semakin sering kamu menggunakan avoidance coping sebagai tameng, dampaknya tidak hanya merugikan dirimu sendiri, tetapi juga merusak keseimbangan hidupmu secara keseluruhan.

Dampak pada Karier dan Hubungan Sosial

Bayangkan jika pola menghindar ini terbawa ke ranah profesional. Saat kamu kesulitan menyelesaikan sebuah proyek besar, alih-alih berdiskusi dan meminta bantuan atasan, kamu memilih diam. Akibatnya, proyek terbengkalai, perusahaan rugi, dan kamu dinilai tidak profesional.

Di ranah personal, kebiasaan melakukan silent treatment (mendiamkan masalah) saat berkonflik dengan pasangan atau keluarga hanya akan mematikan komunikasi. Konflik kecil akan bermutasi menjadi kebencian yang mendalam. Pada titik terendahnya, kesehatan mentalmu akan hancur karena kamu mulai melabeli dirimu sendiri sebagai sosok "pecundang" atau "orang yang selalu gagal mengatasi masalah".

Langkah Nyata Berhenti Menghindar dan Mulai Menghadapi Masalah

Tidak mudah memang mengubah kebiasaan yang sudah mengakar. Namun, di sinilah kita mengingat esensi dari Rosnia Jeh | Bertumbuh Lewat Tulisan. Melalui tulisan ini, kita belajar bahwa kedewasaan mental didapat bukan dari hidup yang tanpa masalah, melainkan dari keberanian kita menghadapi ketidaknyamanan untuk terus bertumbuh.

Berikut adalah langkah-langkah mindful yang bisa kamu terapkan:

1. Sadari dan Validasi Emosi Negatifmu

Langkah pertama untuk sembuh adalah menyadari lukanya. Ketika dorongan untuk lari dari masalah muncul, berhentilah sejenak. Tarik napas panjang. Akui bahwa kamu sedang takut, marah, atau cemas. Jangan menekan perasaan itu. Kamu bisa menyalurkannya melalui teknik journaling (menulis buku harian) untuk memetakan isi kepalamu yang sedang ruwet tanpa takut dihakimi siapa pun.

2. Pecah Masalah Menjadi Bagian Kecil yang Bisa Dikontrol

Terkadang, sebuah masalah terasa sangat menakutkan karena ukurannya yang terlihat terlalu besar (seperti melihat gunung yang tinggi). Ubah perspektifmu. Uraikan masalah tersebut menjadi beberapa langkah kecil yang bisa kamu eksekusi hari ini. Fokuslah hanya pada hal-hal yang berada dalam kendalimu (circle of control), dan lepaskan apa yang di luar kendalimu, seperti reaksi atau ekspektasi orang lain.

3. Cari Support System yang Tepat

Kamu tidak harus menanggung semuanya sendirian. Membicarakan masalahmu dengan sahabat terpercaya, mentor, atau bahkan tenaga profesional (psikolog) dapat memberikan sudut pandang baru yang lebih objektif. Teman bertukar pikiran yang suportif akan memberimu dorongan keberanian bahwa kamu mampu menyelesaikan masalah ini hingga tuntas, bukan sekadar mencari pelarian.

Yuk, Mulai Perubahan Kecilmu Hari Ini! Berhenti lari dan mulailah hadapi kenyataan, sekecil apa pun langkah pertamamu. Ingin terus mendapatkan insight menarik seputar pengembangan diri, mental health, dan tips kepenulisan lainnya?

Mari saling mendukung dan bertumbuh bersama komunitas kami. Bergabunglah sekarang juga di grup Telegram pembaca setia kami melalui tautan berikut: 👉 https://t.me/+V7bWjzRSrhljY2Rl

#MentalHealth #AvoidanceCoping #PsikologiKlinis #PengembanganDiri #MengatasiStres #SelfImprovement #ProduktifTanpaStres #MentalBaja



 

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code